Thursday, September 30, 2010

Surat Terakhir II

Dadaku makin merah
Mencium aroma tanah
Dimana namamu pernah
menyesaki kamarku

Ketika itu aku ingin berdiri paling tinggi
di antara warna kesukaanmu.
Dan kau yang paling pandai
mengecilkan tubuhmu
daripada namamu
*****
musimmusim segera pergi
tangan-tangan akan dikremasi
kita diam pada setiap kepulangan
karena hanya itu yang bisa dilakukan
untuk tak membaca takdir sebagai kutukan

Tanpa diduga
Nama kita hilang dengan sendirinyaa
Tak seperti lembar suratmu
Yang kini masih ada

“kau lekas mengakhiri sebelum
satu usaha pun kau lakukan,”
Katamu dilembar  terakhir suratmu.


“lihatlah, aku tetap berdiri di sini walau
Hari-hari  menjelma lembah sekarat di wajahku,”
jawabku.

Bandung, 01 Okt 2010

No comments:

Post a Comment