Thursday, September 16, 2010

Untukmu, Rumah Sunyi(mu). Kulunasi janjiku

Untukmu; Rumah Sunyi(mu)

: Rangga Umara




Hujan Putus-Putus




Payau cuacakah yang menjadi tumpu? Membulat di cekung matamu. Tak henti kau peram. Kian waktu - kian dalam. Sesuatu yang kau anggap lembut, seperti bunyi kabut. Menjadi sebab. Angin menyapu seluruh hasrat. Maka, tumbuhlah kecemburuan pada tiap ketukan. Di hujan putusputus itu. Ada yang berloncatan di ke dua pipimu. Menjelma sansai sungai garam. Menganak peta. Kenestapaan.


Rindukah yang menjadi muasal? Isyarat sebuah jarak. Di mana ujung jalan belah dua. Musim tak pernah menemukan. Sesuatu yang kau namakan penantian. Mungkin di hujan putusputus itu, yang berloncatan dari dua matamu. Adalah rindu yang debu, dari jalan yang ditinggal pergi oleh aroma masalalu. Di sepanjang pencarian. Melumpuhkan siangmalam. Bahkan seluruh penjuru musim, menjadi payau dan gasal.




Kat O, 16 sept 2010

2 comments:

  1. Kereeeeeeeeeeeeeennn ^^b

    *hujan putus-putus, suka kata2 itu...

    **boleh copas?

    ReplyDelete