Tuesday, November 30, 2010

Pulanglah... Aku Tak Ingin Kau Terluka

Pulanglah
Tempat ini terlalu kejam  untuk kau singgahi
kamar ini terlalu suram untuk kau rebahi

Pulanglah
Biar kurawat luka ini sendiri
Aku tak ingin kau terluka
percayalah
Aku takkan lelah membawa wajahmu
Pada ujung kematian sekali pun

Biarkan aku pergi
Dengan tajam tangismu yang menusuk jantungku hingga luka

Kutuklah aku biar mati lebih cepat, dari tawa yang akan kau lahirkan
Aku ingin melihat kau menangis untukku sekali lagi, di saat kau taburkan
bunga-bunga di batang nisanku
Setelah itu, tak akan ada lagi tawa yang kau sangsikan.

Manisku,
Mengapa kau tak datang lebih cepat
Dari tangis yang kau pendam diam-diam di sudut matamu?

Demi cinta, terlalu banyak airmata akan tercipta
Aku hanya ingin kau tertawa
Aku tak ingin kau terluka

Pulanglah

30 Nov 2010



Tuesday, November 23, 2010

TIGA PUISI UNTUK ANTOLOGI PUISI KASIH- TANAH, AIR, UDARA

Tuhan, Biarkan Aku Durhaka KepadaMu
:mentawai

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin

Tuhan, mataku terlalu busuk untuk melihatmu
hatiku terlalu hitam untuk menilaimu
tapi
biarkan aku durhaka kepadaMu
dengan terus menyebut namaMu
dan terus bertanya apa yang hendak Kau
rencanakan?

Lihatlah, Tuhan
betapa kecil suara mereka, tubuh mereka,
harta mereka
ketika bumi dan laut gelisah, lalu memendam
wajah-wajah ceria dengan mimpinya yang
belum mencapai klimak.

O, mentawai yang malang.
Tanah ini luka
laut pun berduka
ketika ia tak mampu menciptakan surga untukmu
juga anak-anakmu
ia mencipta surga di tanah lain, dimana kau
dan anak cucumu dapat menggenggam mimpi
yang belum usai kau telan

mari berdiri
bernyanyi bersama sisa ombak dan pasir yang getir,
berkisah tentang nelayan tak berjala,
lalu melarung air mata dan doa doa yang sempat tanggal
agar luka di tubuhmu lekas tua

Tuhan tak mengujimu lebih cepat dari kakimu berlari.

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin

Tuhan, jadikan mereka seperti Ayyub.


J 23 Nov 2010

***

Tanah yang Pucat
:wasior

Bulan berduka
ketika banyak tubuh menusuk dadanya
di tanah yang Pucat

J 22 Nov 2010

***

Kau Tak Mati
untuk Mbah Marijan

mbah !
langit retak dan menangis
ketika lahar merah melahap
tubuh tuamu
kau tak pernah menagisi dirimu
namun
kau menangisi anak cucumu
yang tak lekas mengungsi

duh, betapa ingin kutelan gunung
yang menindih punggungmu

mbah...
kau tak pernah mati
kau hanya berpindah
pada kehidupan yang
sebenarnya

selamat jalan, mbah...


Jakarta, 29 Okt 2010


Thursday, November 11, 2010

CALUDIA II

sejak kau tiada
rindu ini teramat luka, Claudia

adalah... kau yang tiada
kembali
       bersamaku

lelapkan mata
di bawah bintang yang sama
dan berdebat lagi tentang bulan
yang tak lekas menua

Claudia !
kebersamaan:
      tanpa tuan dan hamba


Jakarta, 12 Nov 2010

Wednesday, November 10, 2010

Surat buat keponakan

kepada Sharly Faqia

Jalan ini melahirkan jarak begitu panjang
hingga ku rindu pada kuku belia yang tak lekas kau hijaukan
Di wajahku
Hari menciptakan angka lebih banyak
Dari wajah gelisah ayahmu yang mulai hilang.

Ayahmu pergi
Hanya kepadamu ia kembali

Jangan menangis, adikku
Dunia ini tak melahirkan luka apa pun
Ia hanya menciptakan badai untukmu belajar lebih tegar
Kemari, kemarilaah, aku ingin sekali mendengar tangismu
Dan membenamkan ompolmu di pelukku
Setelah itu, kau akan menyisakan jejak paling legam
Di jantungku.

Bandung, 10 Nov 2010

Thursday, November 4, 2010

SAJAK BUAT IBU

Ibu

Aku mendengar suaramu
Sejak kau tiupkan diam-diam ketika aku masih merah
Aku mengenal wajahmu sejak Kau
merajam waktu hingga tanpa nama
dan ketika kau menyulam gelisah yang belum juga tunai
hingga kini

“menangislah! Menangislah yang kencang, biar suaramu cepat gelegar
kelak waktu-waktu akan menjemputmu lebih cepat
daripada uban yang berebut tumbuh di kepalamu,” katamu bu.

Ibu
Lihatlah, bu
Tak ada lagi genang embun
di sudut-sudut mataku
Seperti saat dulu
kau ganti air susuku dengan
dongeng pangeran berkuda putih
yang gagah mengangkat pedang
ke medan perang
Dari sanalah aku belajar jadi karang
Dan merawatnya diam-diam

Tak perlu kita bicarakan apa yang diberi
Dan apa yang harus ditagih
Sebab aku, bagian dari tubuhmu

Ibu
Kau yang tak pernah lelah membidangkan dadamu
Untukku rebah, lalu bercerita tentang hal yang sedikitpun tak ku mengerti,
: tentang kejamnya dunia ini


Ibu
Doa-doamu,
membuatku berjalan
dan berlari hingga hari ini
atau nanti.


Jakarta, 5 Nov 2010

Wednesday, November 3, 2010

NOTULENSI TERAS SASTRA (TeSt) 'BUKA LAHAN' (31/10/10) --SILAHKAN BERKOMENTAR--



Salam Budaya!
Salam Suluh!

Hari itu (31/10/10) seluruh panitia benar-benar sumringah, walau salah seorang dari kami nyeletuk "Kita harus rela berdarah-darah hari ini!" ternyata benar, beberapa rintangan mulai berdatangan bahkan ketika satu hari menjelang acara. Mulai dari beberapa panitia yang bentrok dengan kegiatan organisasi sampai ketakutan-ketakutan ketidaksuksesan acara. Namun semua bernaung pada ikhtiar, walau pamflet dan informasi acara telah tersebar kami tetap siap melangsungkan acara walau tanpa tamu yang datang sekalipun.

Tidak banyak yang datang memang, namun tepuk tangan, senyum, keseriusan, kejelian, kekritisan, kenyentrikan dan kebawelan telah terwakili oleh segelintir yang hadir sampai seorang kawan berkata "Darah kita terlunasi ketika melihat akhir acara ini!" dan senyumpun mengembang dalam dendang musikalisasi penutup oleh tamu undangan Cie-Krip.

Berikut adalah catatan yang dipegang seluruh peserta Teras Sastra,

MENCARI AYAH BERSAMA RANGGA UMARA

“Saya menulis catatan kecil ini sekedar untuk membuka diskusi, sekedar untuk mencari penghubung berkenaan ‘apa yang perlu kita gali’ dari puisi dibawah. Bila ada kesalahan hasil penulisan, silahkan dikritik dan kita diskusikan bersama”

Puisi jika diposisikan sebagai objek berada sepenuhnya dibawah kendali pengarang, pemunculan dari kata ke kata, baris ke baris, bait ke bait merupakan otoritasi pengarang tanpa meninggalkan sedikitpun jeda baginya untuk tidak tahu dan mengerti apa yang akan ia tuliskan. Pengarang sepenuhnya berpikir bahkan kalau perlu membuka kamus untuk menemukan diksi yang semakin ‘menyedapkan’ aliran katanya.

Nah, bagaimana kalau puisi berbalik menjadi subjek yang mengobjekkan pengarang atau bahkan dirinya sendiri?

Puisi yang lahir sebagai ‘hasil ego’ dan yang lahir sebagai ‘hasil ilham’ memberikan dampak pada puisi dan pengarangnya sendiri. Hasil ego memberikan korelasi langsung antara pengarang dan puisi, murni hasil kedigdayaan akal pikiran pengarang. Lalu bagaimana dengan puisi yang dilahirkan dari ilham, kata lainnya dari ketaksadaran pengarang  bahkan ketika ia menulis huruf per huruf yang membentuk puisinya, apakah ada korelasi langsung  antara puisi dan pengarangnya?

Tidak mustahil bagi pengarang yang melahirkan karya dari hasil ilhamnya ikut terbengong-bengong setelah membaca ulang karyanya sendiri, ia bahkan tak menyangka bahwa kata yang ia ciptakan hidup dalam dunianya sendiri, meninggalkan dia yang menuliskan jauh dari untuk mengerti atau paham. Kerap pengarang baru menemukan ‘apa yang dipesankan puisinya’ jauh setelah ia menuliskannya, atau bisa jadi secara cepat dapat ditemukannya walau tetap bukanlah maksudnya menuliskan seperti itu.

Lalu,mari kita melihat sebuah karya hebat Rangga Umara (Bandung) berjudul Jeritan Anak Malang yang menjadi karya terpilih dari seluruh nusantara untuk dihadirkan pada diskusi Teras Sastra ‘Buka Lahan’. Pertanyaannya, jika kita ingin menebak lewat pendalaman pada puisi, apakah karya tersebut lahir dari kesadaran pengarangnya—Rangga Umara—atau memberikan celah pada kita untuk mengatakan TIDAK, bahwa karya ini lahir dari ketaksadaran pengarangnya. Dari sini akan diketahui seberapa besar pembaca sanggup berpindah-alih menjadi pengarang karya yang lahir dari orang lain.

Jeritan Anak Malang

Nyanyikan nina bobo yang paling merdu,ma
Aku ingin tidur

 Kenapa diam,
Suaramu telah kering ya,ma?
Kamu masih seperti dulu,ma
Tetap tersenyum
Walau ribuan luka sering bermalam di balik dadamu
Masih memasak buat ayah, walau tahu ayah tak akan pulang

“Tuhan tidak adil ya,ma?”
“Tuhan sangat adil, nak…”
“Kenapa menukar senyum kita dengan air mata?”
“Kenapa aku harus menangis setiap pagi karena ayah tak pulang?”

 “Sudahlah, jangan menangis lagi.
Tuhan memberi kita waktu untuk menangis lebih banyak
agar kita mengerti nikmatnya tawa.
Tuhan memberi  kita waktu untuk belajar pada kehilangan
agar kita tahu apa arti kebersamaan.”

 Nyanyikan  nina bobo yang paling merdu, ma.
Aku ingin lelap

“tidurlah yang lelap, siapa tahu besok ayahmu pulang.”

 Malam telah mati
Aku terus bernyanyi
Pergilah pergi
Di sini aku sendiri
Menyulam sepi
Bersama sunyi
Yang menemani

 Tidur tidurlah
Lelap lelaplah, anakku
Nikmati mentari esok
Lebih pagi

Kota tua, 27 Sep 2010

Bila dilihat secara seksama, puisi ini jelas begitu kreatif memainkan suasana dengan imajinasi perjalanan alur yang memikat. Pertanyaan seorang anak kepada ibu—ma—memberikan letupan-letupan berwarna lugu, sederhana namun mencengkeram pertanyaan kita kuat-kuat, ‘ada apa dengan anak dan ibu itu?’

….
“Tuhan tidak adil ya,ma?”
“Tuhan sangat adil, nak…”
“Kenapa menukar senyum kita dengan air mata?”
“Kenapa aku harus menangis setiap pagi karena ayah tak pulang?”

Bagaimana posisi dialog dalam puisi, apakah ada indikasi puisi ini mendekati karya prosa? Bagaimana kita menjelaskan kilah kata yang dibikin sedemikian rupa oleh pengarangnya? Lalu bila ini dibenarkan, bagaimana jika puisi berisikan dialog semata?
Lalu kemanakah Ayah? Apakah ayah adalah simbolik ‘harapan’ yang tak kunjung menemui hasil, atau memang puisi ini mendeskripsikan secara sederhana ‘tokoh ayah’ tanpa bermaksud mengelabui pemaknaan pembaca.

….
“tidurlah yang lelap, siapa tahu besok ayahmu pulang.”

Kapankah Ayah pulang atau harapan yang tidak kembali. tentu ini menyimpan begitu banyak rahasia yang memberkas dibenak. Membaca sebuah karya memang sepatutnya kita memunculkan pertanyaan-pertanyaan karena dari sanalah kita akan menggali sedalam-dalamnya tanah yang diciptakan pengarang, walau secara sadar penggalian itu memakai metode dan cara masing-masing. Subjektifitas halal dalam hal ini.

Banyak bagian-bagian menarik dari puisi ini yang mungkin bisa disimak oleh pembaca sekalian, diantaranya adalah:


Kenapa diam,
Suaramu telah kering ya,ma?
Kamu masih seperti dulu,ma
Tetap tersenyum
Walau ribuan luka sering bermalam di balik dadamu
Masih memasak buat ayah, walau tahu ayah tak akan pulang


“Sudahlah, jangan menangis lagi.
Tuhan memberi kita waktu untuk menangis lebih banyak
agar kita mengerti nikmatnya tawa.
Tuhan memberi  kita waktu untuk belajar pada kehilangan
agar kita tahu apa arti kebersamaan.”


Tidur tidurlah
Lelap lelaplah, anakku
Nikmati mentari esok
Lebih pagi

Apakah puisi ini menginginkan kita melupakan untuk besok menemui wajah ingatan baru?
Silahkan diteruskan dalam catatan menarik kawan-kawan semuanya

Semarang, 30 Oktober 2010
Qur'anul Hidayat Idris 

NOTULENSI DISKUSI

'ngobrol santai tapi cerdas'

sesuai jadwal acara yang telah ditetapkan, acara dibuka tepat jam 14.00 (31/10/10). Hari memang mendung ketika itu, bahkan tak lama setelah Dissa--pembawa acara--membuka acara, gerimis tampak mulai membasuh dedaunan dan halaman DKJT (Dewan Kesenian Jawa Tengah). Peserta TeSt yang hadir dimintai untuk melingkar agar lebih dekat dan dapat mendengar jalannya diskusi dengan baik.

Dissa meminta QHI selaku ketua umum Sanggar Suluh untuk menyampaikan sekapur sirih berkenaan terwujudnya cita-cita Suluh melangsungkan acara puncak TeSt 'Buka Lahan'. Dijelaskan bagaimana cikal bakal acara ini "Berawal dari cita-cita, keinginan yang besar dari seluruh pengurus Suluh untuk ikut andil di ranah perkembangan sastra Indonesia, kami mengerti bagaimana luasnya lautan sastra tersebut, walau hanya menjadi sampan dan mengayuh perlahan. Kami siap menempuh depa-depa itu!" ungkapnya bersemangat.

Sebagai tanda  launching seluruh peserta diminta menundukkan kepala sejenak, berdo'a menurut kepercayaannya masing-masing. 'ngobrol santai tapi cerdas',  Jargon acara ini kembali diulangi pembawa acara untuk mengingatkan bahwa TeSt tidak membatasi suara siapapun, pendapat sekecil apapun akan menjadi bernilai ketika dibahas bersama-sama. Sebelum diskusi grup musikalisasi yang diundang panitia, Cie-Krib menampilkan alunan puisi berjudul 'Risau Kerinduan' karya Angga yang merupakan salah satu personil grup. Semua yang ada disana menikmati kreasi mereka, cukup untuk semakin mencairkan suasana.

Pembawa acara membacakan catatan 'Mencari Ayah Bersama Rangga Umara' yang puisi 'Jeritan Anak Malang' dibacakan dua kali oleh peserta TeSt, pertama oleh Sri Deby Marpaung dan selanjutnya oleh Samodra. Pembacaan yang baik dari keduanya membuat tepuk tangan hadir memeriahkan acara. Samodra langsung angkat bicara, "Karya dari Rangga Umara ini sangat menyentuh dan pantas ditempatkan diposisi pertama, karya ini menjadi cerminan masyarakat Indonesia. Bagaimana kebersamaan itu mahal harganya. Bahkan saya jadi teringat dengan keluarga saya yang telah empat bulan saya tinggalkan, ah. Saya memang bukan ayah yang baik"  pungkas Samodra dengan sorot kerinduan yang jelas terpancar.

QHI mengatakan, "banyak pertanyaan yang muncul ketika membaca puisi ini. Pertama, apakah Rangga mendapatkan aliran menulis dari ilham atau egonya? Kedua, Bagaimana penempatan dialog di puisi, apakah ini tidak mengindikasikan karya ini mendekati prosa? Ketiga, pertanyaan yang simpel, kemanakah Ayah?"

Angga angkat bicara, "Rangga mencoba berkomunikasi dengan Ibunya lewat bathin atau berdialog dengan dirinya sendiri karena sedang merasa kesepian dan butuh seorang teman. Antara prosa dan puisi sekarang perbedaannya sudah sangat tipis. Kalau pertanyaannya sah atau tidak dialog dalam puisi ini, jawabannya sah karena toh ini karya Rangga dan dan Rangga bebas menamai apa karyanya". Deby menegaskan, "dialog tersebut masih dalam ranah puisi, karena masih mengandung unsur puitiknya sebagai sifat dari puisi" 

Samodra menuturkan, "ini mirip perbedaan antara gambar dan lukisan, jika unsur keduanya dominan maka dikategorikan salah satunya, seperti puisi dan prosa. Cara penuangannya prosa akan tetapi ketika dibawa dengan bahasa yang sederhanan namun menyentuh dan ada letupan seperti puisi. Untuk itulah kenapa seorang pembaca yang baik harus mampu memahami karya yang dibacanya"

Una, "Di dalam bait-baitnya ada kemarahan mengungkapkan bagaimana seorang Ayang yang tidak bertanggung jawab"
Desta, "Antara puisi dan prosa sulit untuk dibedakan. Pusi ini dapat dialami langsung oleh pengarangnya ataupun dengan melihat pengalaman orang lain, intinya tergantung sejauh mana kepekaannya. Masalah dialog, itu sebenarnya untuk lebih menekankan makna puisi. Sebenarnya apa perbedaan mengarang dengan hasil ego dan ilham?"

QHI menjawab, "pengarang dalam posisi mencari, inginn menemukan apa yang akan dia tuliskan, sehingga ia dalam keadaan sadar menuangkan pikirannya dan dapat mencari referensi kata dari kamus. Sedangkan mengarang dengan hasil ilham ketika pengarang sendiri tidak mengerti apa yang telah ia tuliskan, ide dan aliran menulis muncul dalam ketidaksadarannya" setelah mendengar penjelasan tersebut, Desta kembali bicara, "kalau begitu saya memilih karya ini adalah hasil dari ego pengarangnya, karena ia menuliskannya setelah merefleksikan apa yang ia lihat dan dengar di sekitarnya"

Angga berbeda pendapat, "hilangnya sosok Ayah yang sudah meninggal dan sosok ibu yang bersedih ketika ditinggalkan, lalu berusaha untuk menenangkan diri. Untuk itu saya memilih karya ini dikarang berdasarkan ilham" Dissa sepakat dengan pendapara Angga, "Ayah disini adalah perlambangan harapan, ini diciptakan melalui hasil pertentangan bathin Rangga.

ditengah dua pendapat yang berbeda tersebut, Samodra masuk menengahi, "bisa jadi malah dua-duanya, karena dapat dilihat Rangga menulis dengan penuh kesadaran, dari pilihan katanya. Akan tetapi sisi ilhamnya juga ada. karya ini dirasakan punya tenaga untuk mengantarkan pembaca pada suasana yang diinginkannya, seolah-olah dia sendir yang mengalaminya. Puisi ini juga dapat lahir dari pengalamannya atau cerminan kehidupannya, bisa dimaksudkan benar-benar Ayah atau bisa cerminan keadaan Indonesia"

Desta, "puisi ini menggambarkan Ayah, sebagai klise dari harapan serta makna simbolik. Terlihat kesadaran penuh Rangga dalam menulis bila dilihat dari pemilihan diksinya. Memang, ketika puisi dibuat kita tidak dapat menetapkan secara pasti arah yang mau dibawanya kemana, sehingga kita tidak dapat men-judge maknanya!"

QHI, "namun, walaupun kita tidak bisa mendapatkan makna sesungguhnya, setidaknya kita telah mengalami penggalian untuk mencari sejauh mana karya ini mengusung sesuatu yang dapat kita jadikan landasan yang mendukung teori sastra, bukankah teori sastra muncul dari karya yang dikaji?"

Dissa, "tidak ada ketetapan yang hakiki memang, walaupun ada teori namun implementasinya dalam kenyataan tidaklah sama, sulit untuk menentukan titik makna, untuk melihat perkembangan sastra ini perbedaan dibenarkan. Teori juga lahir untuk menyampaikan inilah perkembangan sastra saat ini!"

Desta, "ada cara-cara tersendiri dan setiap teori ada tempatnya sendiri"

pembawa acara lalu menanyakan pendapat peserta yang belum memberikan pendapat ketika itu, lalu beberapa menjawab.

Cipto, "puisi ini bagus dengan adanya kata-kata yang menyentuh, tentang bagaimana seorang anak yang sudah kehilangan kasih sayang seorang Ayah"
Lia, "Pengarang pandai memainkan suasana sehingga pembaca dapat masuk kedalam suasana tersebut"
Deby, "Ibu di puisi adalah sosok yang tegar"
Dhini, "dalam mengarang puisi, adakalanya memang kita memperuntukkannya untuk ketenangan diri kita sendiri, ketika kita sedang bersedih, kita mencoba untuk mencari pelampiasan dari rasa sedih tersebut, begitu juga ketika kita dalam keadaan senang!"
Dissa, "menanggapi pernyataan Dhini, saya jadi teringat dari manfaat karya sastra itu sendiri, yaitu Katharsis, tentang bagaimana karya sastra dapat menjadi sarana pencucian bathin. selain itu ada juga manfaat lain, yaitu dulce et utile, berguna dan bermanfaat"

setelah pendapat-pendapat selesai, QHI melontarkan sebuah pertanyaan, "Bagaimana proses seorang pengarang dapat  menciptakan karya yang pada umumnya dianggap bagus, bagaimana kita melihat proses kreatif yang harus dilakukan, terutama ketika melihat keberhasilan puisi Rangga Umara ini?"

beberapa jawaban bermunculan,

Angga, "pelaku seni harus bebas dalam berkarya, tidak boleh dalam tekanan dan batasan-batasan"
Dissa, "karya yang bagus harus diciptakan dengan hati, selain itu dalam menciptakan karya tidak boleh terburu-buru, hanya akan membuat karya tidak padat dan cermat. Juga bagaimana menunjukkan kebebasan hati yang bebas"
Deby, "mengungkapkan perasaan dengan puisi"
Desta, "jika dipaksakan tidak akan menjadi karya yang baik"


QHI bertanya lagi, "menanggapi jawaban dari Dissa yang mengatakan bahwa sebuah karya tidak boleh terburu-buru. Lalu bagaimana kita melihat pengarang yang mengejar produktifitas untuk memenuhi keharusan penerbitan yang telah dicanangkan berkala oleh penerbit. Karya mereka tidak ada lagi pengendapan, hanya terus mencari ide-ide yang terkadang terlihat mengejar waktu. Ini tentu gejala kapitalis dalam sastra, nah, bagaimana kawan-kawan melihat fenomena seperti ini?"

Samodra, "kapitalis memang telah merambah kemana-mana, yang dulunya hanya berada pada wadah perdagangan dan  industri, sekarang telah masuk pada dunia seni bahkan sastra. Kita melihat bagaimana perubahan sikap dari banyak sastrawan atau seniman yang memaknai karyanya untuk sekedar menjual, melupakan idealis yang telah ia bangun dari dalam dirinya. Intinya fenomena ini menunjukkan bagaimana kapitalisme semakin menggusur idealisme. Lalu apakah seniman atau sastrawan harus terus berada pada idealisme, tidak juga, idealisme ditengah kapitalis akan menjebak pada ketidaksanggupan untuk bertahan, makanya perlu mencari celah-celah untuk bagaimana idealisme memanfaatkan kapitalisme, bukan sebaliknya!"

Andi, "intinya adalah bagaimana kita memaknai bahasa cinta, dengan cinta kita tahu apa yang sebenarnya kita inginkan, seni dan sastra sejati adalah yang timbul langsung dari dalam hati"
QHI, "celah sempit seperti apa yang Pak Samodra maksudkan?"
Samodra, "dunia mengalami percepatan dan itu mempengaruhi pada sitem yang  ada. Intinya sebagai bagian dari percepatan dan sistem itu, kita tidak boleh menjadi boneka yang dipermainkan, kita harus menjadi pelaku yang sanggup melawan dan menjadi bagian penting sistem tersebut. Dengan begitu, kita tidak akan kehilangan idealisme kita sendiri!"

seluruh peserta tidak menyangka jalannya diskusi dapat berkembang sedemikian rupa sampai ada isu Antara idealisme dan kapitalis dapat dimunculkan. obrolan terus berlanjut membicarakan masalah tersebut. ketika jam menunjukkan 16.00, pembawa acara meminta Cie-Krib untuk kembali menampilkan musikalisasi puisi yang telah mereka siapkan. namun ada saran dari Samodra yang meminta Andi untuk memainkan gitar dan bernyanyi bersama. Seluruh peserta terkejut karena tidak tahu sebelumnya kalau Andi bisa bermain gitar.

"petikan demi petikan mengantarkan senyum seluruh peserta, beberapa orang yang hapal ikut melantunkan lagu  Panggung Sandiwara dan Titip Rindu Buat Ayah"

Dissa menegaskan bahwa jargon TeSt 'ngobrol santai tapi cerdas' berhasil dengan baik, banyak pelajaran dan ilmu yang dapat dipetik, tidak sekedar obrolan biasa. Selanjutnya kesimpulan dari seluruh diskusi dibacakan, beberapa orang juga ikut menambahkan.

Acara kemudian ditutup dengan berdo'a dan bersalam-salaman dengan diiringi musikalisasi penutup dari Cie-Krip dengan puisi 'HAMBA' karya Angga. Semua yang hadir menjadi dekat dalam sejekap, ditambah dengan panitia yang memfoto setiap momen, ada juga yang narsis, hehehe

....................................
begitulah ringkasan notulen Teras Sastra (TeSt) 'Buka Lahan' yang dapat ditulis, walau memang tidak bisa mewakili suasana sebenarnya di tempat kejadian dan tidak semua omongan dapat ditulis. Semoga catatan singkat ini dapat memberikan gambaran kepada seluruh kawan TeSt jalannya acara puncak.

info pengiriman karya Teras Sastra (TeSt) Oase Kedua dapat dilihat dibawah,
 http://www.facebook.com/notes/quranul-hidayat-idris/teras-sastra-test-oase-kedua-menampung-karya-anda-untuk-didiskusikan-dan-diterbi/10150291110275430

Pengurus mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada seluruh teman-teman di dunia maya maupun yang ada disekililing kami. Do'anya telah membuat acara ini berhasil...
:)

Salam Budaya!
Salam Suluh! 










sebelum peserta datang, bersih-bersih dulu.. (doc/tim jepratjepret)
berdo'a dulu sebelum diskusi.. (dok/tim jepratjepret)
tereng tereng,... inilah dia Cie-Krib (dok/ tim jepratjepret)
jejaka-jejaka di TeSt (dok/tim jepratjepret)
QHI yang lusuh (dok/tim jepratjepret)
dissa nih, ehhem (dok/tim jepratjepret)
Deby, (dok/ tim jepratjepret)
ihhhiiiy, peseta tak diundang nih,, hehe (dok/tim jepratjepret)
penampilan khusus Andi (dok/tim jepratjepret)
setelah selesai, kembali bernyanyi ria.. hehe (dok/tim jepratjepret)
akhirnya,, inilah Teras Sastra yang sederhana (dok/tim jepratjepret)

PENGUMUMAN: LIMA KARYA TERPILIH UNTUK TERAS SASTRA (TeSt) DAN BULETIN 'TERAS SULUH'

Salam Budaya!
Salam Suluh!

Proses penjaringan karya untuk diskusi Teras Sastra dan Buletin 'Teras Suluh' tahap pertama atau yang kami namai BUKA LAHAN berakhir sudah. Setelah info pertama kali disebarkan di fesbuk pada tanggal 13 Oktober 2010. Seluruh panitia TeSt dan segenap pengurus Sanggar Suluh tersanjung dengan apresiasi yang ditunjukkan kawan-kawan semuanya, baik yang mengirimkan, menyebarkan info, menyemangati serta meramaikan grup fesbuk Teras Sastra (TeSt) Sanggar Suluh (http://www.facebook.com/home.php?sk=group_162358557126733&ap=1).

Sampai pada batas pengirimannya (25/10/10) kami menerima sekitar 75 (tujuh puluh lima) karya sastra yang masuk dan berhak bergelut di meja pertimbangan Tim Pembahas Karya Sastra Sanggar Suluh (TPK3S). Seluruh anggota tim yang terdiri dari lima orang telah bekerja keras menentukan lima karya terpilih. Adapun karya-karya yang masuk mengalami tahap membaca, eliminasi, ajuan juga alasan dan penentuan hirarki karya dari satu sampai lima.

Tidak mudah untuk menentukan lima karya tersebut, kelima anggota TPK3S harus bergelut dengan setiap karya yang masuk lalu mengajukan satu terbaik. Setelah mendapatkan lima karya, pengurus ikut andil dalam memberikan penentuan hirarki dengan melakukan voting--setelah membaca karya terpilih. Nah, akhirnya kami dapat menampilkan kelima karya terpilih tersebut ke hadapan semua kawan Suluh! Seluruh Pengurus Suluh meminta maaf bila ada kawan-kawan yang kurang berkenan akan hasil ini.

Keputusan ini mutlak dan tidak bisa diganggu gugat ..

AKHIRNYA, INILAH LIMA KARYA TERPILIH UNTUK TERAS SASTRA (TeSt) DAN BULETIN 'TERAS SULUH' :

1. Jeritan Anak Malang (Rangga Umara, Bandung)
2.  Menanti Berlabuh Lelakiku (Rusydi Hikmawan, Lombok Timur)
3.  Rupiah dan Pelaminan (Dalasari Pera, Sulawesi Selatan)
4.  Cerita Anak Pesisir (Youri Kayama, Padang)
5.  Siluet Laju Kereta (Budhi Setyawan, Bekasi)

Keterangan:
* Karya nomer 1 menjadi karya yang akan diangkat dalam diskusi Teras Sastra (TeSt) 'Buka Lahan'
* Karya nomer 1 sampai 5 otomatis diterbitkan di Buletin 'Teras Suluh'
* Buletin akan dikirimkan ke alamat masing-masing pemenang

LAMPIRAN

Jeritan Anak Malang

Nyanyikan nina bobo yang paling merdu, Ma
Aku ingin tidur

Kenapa diam,
Suaramu telah kering ya, ma?
Kamu masih seperti dulu, ma
Tetap tersenyum
Walau ribuan luka sering bermalam di balik dadamu
Masih memasak buat ayah, walau tahu ayah tak akan pulang

"Tuhan tidak adil ya, ma?"
"Tuhan sangat adil, nak..."
"Kenapa menukar senyum kita dengan air mata?"
"Kenapa aku harus menangis setiap pagi karena ayah tak pulang?"

"Sudahlah, jangan menangis lagi.
Tuhan memberi kita waktu menangis lebih banyak
agar kita mengerti nikmatnya tawa.
Tuhan memberi kita waktu untuk belajar pada kehilangan
agar kita tahu apa arti kebersamaan."

Nyanyikan nina bobo yang paling merdu, ma.
Aku ingin lelap

"tidurlah yang lelap, siapa tahu besok ayahmu pulang."

Malam telah mati
Aku terus bernyanyi
Pergilah Pergi
Di sini aku sendiri
Menyulam Sepi
Bersama Sunyi
Yang menemani

Tidur tidurlah
Lelap lelaplah, anakku
Nikmati mentari esok
Lebih pagi

Kota Tua, 27 September 2010

Hanya ini yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan ini. Kami berharap kawan-kawan terus berpartisipasi dalam Teras Sastra berikutnya--info menyusul. Selamat kami ucapkan kepada pemilik karya terpilih, semoga terus menyemarakkan dunia sastra. Segenap pengurus meminta maaf bila ada hal-hal yang tidak nyaman dalam pelayanan kami...

http://sanggarsuluh.blogspot.com/
silahkan meng-add fesbuk sanggar dengan akun Sanggar Suluh

CP: 081 390 106 864 (Qur'anul Hidayat I)

(Info ini boleh dibagikan ke siapapun)

Salam Suluh!
Salam Budaya! 

Tuesday, November 2, 2010

Sore Tadi Kampungku Menangis

Sore tadi
Kampungku menangis
Dadanya luka
Jembatan memanjang diam-diam
Merobek dadanya begitu kejam.

“O, malam, kepadamu aku bertanya,
kemana kucari budaya
Yang kian hilang bersama timah dan
Minyak tanah yang terjual?”

Duh, masih adakah keceriaan dulu
Dimana bocah-bocah menghijaukan tubuhnya
Di pematang sawah, di ladang-ladang
Kemudian lelap dengan dongeng yang belum usai
di ceritakan

Sore tadi
Kampungku menangis
Ia tak mampu menjaring wajah-wajah asing yang
Gemar melarutkan isi perutnya
Ia tak mampu mencegah
Rumah Tuhan jadi sunyi, sekarat dan, mati.

Lindungi.


Jakarta, 2 Nov 2010

  • jembatan memanjang: Suramadu