Tuesday, November 23, 2010

TIGA PUISI UNTUK ANTOLOGI PUISI KASIH- TANAH, AIR, UDARA

Tuhan, Biarkan Aku Durhaka KepadaMu
:mentawai

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin

Tuhan, mataku terlalu busuk untuk melihatmu
hatiku terlalu hitam untuk menilaimu
tapi
biarkan aku durhaka kepadaMu
dengan terus menyebut namaMu
dan terus bertanya apa yang hendak Kau
rencanakan?

Lihatlah, Tuhan
betapa kecil suara mereka, tubuh mereka,
harta mereka
ketika bumi dan laut gelisah, lalu memendam
wajah-wajah ceria dengan mimpinya yang
belum mencapai klimak.

O, mentawai yang malang.
Tanah ini luka
laut pun berduka
ketika ia tak mampu menciptakan surga untukmu
juga anak-anakmu
ia mencipta surga di tanah lain, dimana kau
dan anak cucumu dapat menggenggam mimpi
yang belum usai kau telan

mari berdiri
bernyanyi bersama sisa ombak dan pasir yang getir,
berkisah tentang nelayan tak berjala,
lalu melarung air mata dan doa doa yang sempat tanggal
agar luka di tubuhmu lekas tua

Tuhan tak mengujimu lebih cepat dari kakimu berlari.

La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin

Tuhan, jadikan mereka seperti Ayyub.


J 23 Nov 2010

***

Tanah yang Pucat
:wasior

Bulan berduka
ketika banyak tubuh menusuk dadanya
di tanah yang Pucat

J 22 Nov 2010

***

Kau Tak Mati
untuk Mbah Marijan

mbah !
langit retak dan menangis
ketika lahar merah melahap
tubuh tuamu
kau tak pernah menagisi dirimu
namun
kau menangisi anak cucumu
yang tak lekas mengungsi

duh, betapa ingin kutelan gunung
yang menindih punggungmu

mbah...
kau tak pernah mati
kau hanya berpindah
pada kehidupan yang
sebenarnya

selamat jalan, mbah...


Jakarta, 29 Okt 2010


No comments:

Post a Comment