Friday, June 18, 2010

Seorang Perempuan dan Kematiannya

Seorang Perempuan dan Kematiannya

Di lidah bulan lima
Ku lihat wajah belia menanti 'Izra'il dengan sungging dibibirnya. Ia tersenyum walau maut berkali-kali mengecup keningnya yang tak berkerut. "Tidak ! Aku tidak akan menangis, karena aku tidak tahu untuk apa aku menangis?'' lirihnya. ''bawalah aku jika itu memang perjanjian waktuku. Aku sudah rindu ingin berdansa dengan kupu-kupu putih ditepian telaga Firdaus''.

Maut adalah penantian yang pasti tiba masanya, dan,
Kematian adah Hidup yang sebenarnya.


Ketika malam larutkan matahari di dadanya, maka ia pilih Bintang sebagai penerang disisa perjalanannya.


[terinspirasi oleh seorang perempuan yang sangat tabah melawan penyakitnya. Maaf, hanya coretan ringan]

Bandung 11-052010

No comments:

Post a Comment