Jumat, 30 Maret 2012

Wanita Dalam Lukisan

Hari ke 2 di Masjid Jami' alun-alun bangkalan. Kali ini aku sendiri, tenggelam dalam kebisuan panjang, sembari mengenang masa kanak-kanakku. Kala itu ada pria kecil, bolak-balik ke masjid ini, pamit sebentar dari pesantrennya untuk pergi melawan penyakit tipus yang lama bersarang di tubuhnya. Lain kali, kalau mau berobat, ajaklah orang tuamu, kata dokter lucas, usai menyodorkan selembar kertas resep obat. Ah, dasar dia tidak tahu kalau orang tuaku berada di kota jauh sana, gumamnya. Pria kecil itu tak pernah menangis atau mengeluh, meski sering ia ingin sejenak berlari dari penyakitnya. Namun kali ini tiba-tiba ada yang mengambang di sudut matanya, keremangan rahasia tuhan ia idap sejak mulai usianya belia. Satu waktu ia menulis surat buat ibunya,''Ibu, mintakan aku pada Tuhan, agar aku mati lebih cepat'', namun, Ibunya melarangnya, dengan alasan, siapa nanti yang akan melindungi wanita dalam lukisanmu? Hidup ini bagai berlarung dengan sebuah gondola . suka tidak suka, mujur tidak mujur, kuat tidak kuat, kita harus terus mengayuhnya.

Ia tersenyum. Ternyata Ibunya masih ingat tentang lukisan yang ia tunjukkan pada suatu pagi.

Hari jum'at adalah hari surga, ketika fajar menyingsing, ia laksana bayi lelap dalam dekapan ibunya, karena semua aktivitas pesantren tidak ada pada hari itu. Ketika teman-teman yang lain pergi bermain bola, pria kecil itu memilih berteduh di bawah pohon mangga dekat pesantrennya. Seperti biasa, ia keluarkan lukisan kecil dari balik bajunya lalu memandangnya penuh hayat. Dia yang kelak menemaniku di surga, ujarnya lirih. Wanita ayu dalam lukisan itu membalasnya dengan senyum.

Pria kecil itu kemudian melepas pandangannya ke arah lain, menghinggapkan pandangannya pada sebuah tulisan yang pernah ia tulis dengan duri carang di pohon kaktus yang tumbuh bagai taman surga di sekitarnya,

Aku ingin jadi tuhan, agar aku bisa menciptakan banyak hamba. Ah, tidak! Sebab aku tak pintar bikin wahyu.

Aku ingin jadi nabi, agar aku banyak umat. Ah, tidak! Sebab aku tak pernah menerima wahyu

Tuhan, kelak aku akan hadir menjadi jawab pada setiap pertanyaan, dan, ada pada setiap ketiadaan.

Pria kecil itu selalu menghabiskan hari jum'at di sini, sembari menyaksikan wajah-wajah yang tidak ia kenal pergi, lalu datang wajah yg lain.

Apakah hari ini wajah-wajah itu kembali ada, atau selamanya tak pernah ada?

Aku rindu masa kanak-kanakku. Aku rindu lukisanku.

2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar