Pada setiap langkah yang terlepas, ingin kucipta jejak paling berarti bagimu, lalu, lahirlah hanya nama kita di waktu-waktu terasing sekali pun
Sunday, July 21, 2019
LATEG
dengan kepala pening, dan jalan sempoyongan, akhirnya saya berjalan seperti pengembara. Sesekali memgangi kepala, dan menyeka kringat dingin yang membasahi pipi dan leher. saya terus berjalan menyusuri jalan keluar terminal yg penuh lobang di sana sini, berpuluh-puluh meter bahkan ratusan meter jarak jauh dari terminal menuju jalan raya di luar terminal. tiba di persimpangan, ternyata benar kata Gema, di sini banyak orang menunggu bus dengan berbagai jurusan. Akhirnya, saya naik bus ekonomi menuju tegal. Tak ada pilihan lain, bus ber AC semua penuh, mungkin juga tak mau menaikkan penumpang di luar terminal.
Untung. kali ini nasib saya cukup beruntung, masih ada satu dua kursi yang masi tersisa. Bus bobrok ini melaju terus melaju. Bau asam kringat penumpang segera menyergap menyesaki hidung. Berkali-kali bus ini berhenti menaikkan penumpang, namanya bus ekonomi, berbagai model penumpang naik, tak perduli mereka berdiri tanpa kursi, kondektur rakus bus ini terus saja bertriak-triak bagai panglima perang menghalau pasukan. Duh, mungkin penumpang yang lain tak setersiksa saya yang dengan fisik labil. panas dan pengap yang tersasa. udara masuk dari kaca jendela yang menganga tak mampu mengusir panas di dalam bus bobrok ini. suara jerit tangis anak kecil tiba-tiba terdengar memekakkan, sementara sang ibu sibuk mengipas-ngipasi dengan kipas yang terbuat dari kardus. Nenek yang duduk di sebelah saya anteng-anteng saja sambil mejejalkan sirih dan tembakau ke mulutnya. ''tyang pundi, lee'', tanyanya. ''kte tegal, mak'', jawabku dengan kosa kata jawa yang sangat terbatas.
Berjam-jam berlalu. Bus terus saja melaju. entah berapa lama lagi saya harus berada dalam siksaan bus tua ini? Tubuh letih luar biasa, tiba-tiba bus berhenti di tengah jalan. kondektur bus memberitahukan, bahwa semua penumpang terpaksa harus turun untuk di pindahkan ke bus lain karena bus ini mogok. Kami turun. jalan ini sangat sepi. Sejauh mata memandang yang tampak hanya hutan dan pohon-pohon besar. Hanya ada warung kecil dan bengkel tambal ban.
''tegal masih jauh'', kata Riska, perempuan asli tegal yang kuliah kedokteran di Jogja, ''kalau bus ini tidak mogok, kira-kira usai maghrib baru nyampek tegal'', lanjutnya.
Saya dan Riska duduk di warung kecil milik Ibu Aminah. anak laki-laki kecil Bu Aminah begitu cekatan melayani kami yang memesan Es teh manis dan sebotol aqua. Riska adalah perempuan tangguh, ternyata dia biasa naik bus ekonomi seperti ini. ''perjalanan ini belum apa-apa dibanding ganasnya hidup yang akan kita jalani ke depan'', kata-katanya lebih bijak dari Mario Teguh. Detik berlalu, menit-menit pun entah kemana? jam di ponsel menunjukkan pukul 16:15, bus yang dijanjikan kondektur belum juga menampakkan diri. ''sabar, bentar lagi juga datang'', ucap kondektur berkali-kali. saya lihat muka-muka masam tergambar di wajah para penumpang lain. Ada yang mengumpat, ada yang dudk mencangku di tepi jalan, ada yang sibuk mengganti celana anaknya. Kami seperti damparan para pencari suaka di negara lain.
Yazid Musyafa, teman saya di tegal melalui sms berkali-kali menanyakan saya sudah sampai di mana? ''Jangan lupa, sampai di tegal nanti, mas harus mampir ke rumahku. Nanti kubuatin kopi ala tegal'' ajak Riska sambil tersenyum.
Thursday, May 9, 2019
Kasti Tua
musim-musim tak terduga
Takdir seperti angin tak terlihat
Aku berlelah-lelah melayarkan harapan di musim gugur
di sana debur-debur bernyanyi, mengiringi kapal-kapal tanpa nahkoda
adalah ketika menujumu begitu jauh: hanya namaku, hanya namamu
mendekap sunyi paling beku di sebuah kastil tua
Namun kini hanya ada penanda: kreta tua dan penarik biola
Thursday, July 26, 2018
Cenayang
Derak pagar terdengar cukup miris. Di mana anak ibu ini berada sekarang? Kuinjak pedal gas pelan-pelan dan memastikan semua kaca tertutup rapat. Debu-debu jalan berhamburan Bagai laron. Aku sendiri. Yah sendiri. Terik kota seolah melehkan tubuhku. Di manakah ini? Aku sbagai amnesia tak berdosa menyusri jalan-jalan tanpa nama, tanpa gang, pembatas dsb. Hey, ini dia! yah, warung kecil ini tempatku dulu minum kopi. kutepikan mobilku, namun tiba-tiba tubuhku gemetar, gemetar terus gemetar. Apa yang terjadi? para cenayang sedang berpesta dengan kekasihnya masing-masing. kuraih pistol yang tergeletak di jok sebelah dengan tangan gemetar. Inilah sisi gelapku? Tidak! Jangan bawa aku ke duniamu. Jangan benam aku dilembahmu! Biarkan mereka tertawa sekaligus dengan tangisnya sendiri. Masih dengan tubuh gemetar, mobilku melaju lebih cepat. tak kuhiraukan apa kulihat dan kudengar diluar sana. di benakku masih tertanan wajah-wajah para cnayang tadi. seluruh tubuh basah oleh keringat yang terus tumbuh dari lubang pori-pori.
Tibalah kali ini di sebuah tikungan kelapa dua, di depan sana berjejr orang-orang berpakain serupa. seseorang melambai-lambakan tangannya memintaku untuk berhenti.
''Selamat siang, pak.''
''Siang''
''kenapa bapak mengendarai sambil memegang senjata? Tolong surat-suratnya sekaligus surat ijin senjata anda''. Pinta polisi berkumis tebal tanpa menunggu jawabanku.
Sejenak ku menoleh ke jok belakang mencari di mana ransel kecil tempat menyimpan barang-barangku.
Astaghfirulloh... Tasku ternyata tertinggal di tempatku menginap.
Tuesday, May 17, 2016
PERTEMUAN TERAKHIR
Sunday, September 27, 2015
PU-ISI
Di tengah erangan jalan dan lampu-lampu kota
Debu-debu beterbangan
Menembus wajah kecil di persimpangan
Darah mengalir bagai erupsi
Jiwaku dingin menenggak kecemasan yang kau Tinggalkan, puisi
Tiada bara di mataku seperti yang kau sangsikan
Rel-rel kretamu jauh menusuk hutan-hutan
Gerbong-gerbong berbaris menakutkan
Kau dan aku melangkah lebih cepat dari tuhan
Tuhan membangunmu seperti kastil di Kepalaku,
Di mataku, di dadaku,
Bahkan di tulangku.
Musafir-musafir berlari berebut air
Ketika kata meregang dan terkubur
Kau tanpa luka.
Luka mengering di daun-daun
Katamu pusaka
Sungai tertawa mengenaskan di bibir samudera
Aku menjaring surga bertahun-tahun meski bersama kutukanmu.
Bahkan kau tak pernah mati, atau tiada
Karena cinta takkan membunuh apa-apa
Bandung, 20/02/14
UAKNGE
Tongkat-tongkat yang hilang melepas pijakan menuju surga
Yang pernah kita buat sebagai persinggahan
bara itu tak pernah padam mengalir di wajahmu menjadi lautan, lautan dimana bidadari bersemayam.
Di sini aku seperti malaikat terbuang, melukis wajahmu dengan tetesan darah yang tercabut dari jantungku
engkau tajam menatapku tidak mengerti bagaimana cara membunuhku
sekali saja lihatlah mataku yang tanpa dendam
Harihariku lebih fana dari mimpi
Tanpamu dunia ini bukan apaapa
aku tak ingin apaapa sebelum tuhan memanggilku
Aku ingin terbaring dengan lukisan ini yang tumbuh menjadi sayap di punggungku.
Tuhan tak pernah mengajari apaapa melebihi keabadianmu
Tuhan tak pernah memberi alasan apaapa atas kepergianmu
14Juli2015mdr
Friday, March 28, 2014
Pagi Ini Aku Pergi
Alarm ponsel berdenting tuk kesekian kali, kali ini ia berbunyi pada settingan pukul 06 pagi, sengaja ku set berulang berharap jika di alrm pertama aku masih terlelap, maka di alarm berikutnya akan terbangun. Nyatanya, semalam penuh aku hanya bisa tertdur tak lebih dari satu jam. Ntah kenapa.
Sekali lagi kucoba menghubungi seseorang yang sudah janji akan menemuiku pagi-pagi sekali di sebuah tempat ,di dekat masjid, yang aku lupa namanya. lagi-lagi tak ada yang mengangkat poselnya. Sambil menunggu pukul 06:30, aku ambil kembali laptop yang telah kumasukkan ke dalam ransel, dan menulis sekenanya
: Pagi ini aku harus pergi, meninggalkan kamar ini, meninggalkan jalan-jalan yang tiap hari ku lewati, meninggalkan tawamu, cloteh manjamu, bahkan meninggalkan semua pertemuan yang biasa. Setelah aku pergi, aku titip satu saja padamu; jangan lupakan aku. Oh iya, aku akan selalu ingat yang kemarin; kita duduk di kursi yang sama, sambil main gitar dan bernyanyi bersama pula. Betapa lembut suaramu, ketika menyanyikanlagu ‘Matahariku’, lagu yang pernah di populerkan oleh Agnes Mnica itu. kau terus bernyanyi sambil menatapku yang masih berdarah-darah untuk menemukan Chord yang pas. Sesekali kita terpingkal ketika aku salah memainkan gitar, dan saat itu pula beberapa cubitan kecilmu mendarat di tubuhku. Lalu sebuah gerimis datang menyapa kita yang semakin lama merubah namanya menjadi hujan. Kita bingung, kemana kita harus berteduh? Namun akhirnya sebuah pohon rindang menjadi alternatif terakhir sebagai pelindung tubuh kita dari guyuran hujan yang sebetulnya tak begitu deras.
Tak terasa ada butiran hangat bergulir di pipiku, kemudian menetes satu-satu di keyboard laptopku. Ternyata aku cengeng sekali pagi ini, pikirku. Aku menangis saat aku tak ingin mengeluarkan airmata untuk siapa pun. ketika kecilku dulu, Ayahku berkata, “Nak, sepulang ayah nanti, ada sepeda baru untukmu.” Aku tahu, itu hanya alasan Ayah agar aku tidak bersedih, sebelum beliau pergi jauh dalam beberapa waktu yang sangat lama. Nyatanya aku tetap sedih, namun tak ada sedikit pun air mata saat itu. tak seperti saat ini.
Pagi ini aku pergi, sayang…
23 Maret 2011 pukul 14:45
Sunday, February 3, 2013
Perempuan Bermata Hazel
seperti parfum benetton, tubuhmu berenang menggaris dinding Sheraton. entah mengapa malam ini aku mengingatmu bak Putri Leitizia yang berwarna mata hazel, kala itu duduk di sampingku dalam bus berbody tua jurusan Bogor, ''kepergian hanya membuat luka'', ucapmu lirih. sungguh aku benci rindu yang hanya milikku.
Sunday, December 9, 2012
Surabaya dan Rindu
Monday, October 1, 2012
Secanting Cahaya
Tibalah Purnama memetakan segala rahasia.
Ketika kealpaan terikat bagai jaring labalaba
Lahirlah bocah kecil dengan canting di tangannya
dunia tibatiba belia, waktuwaktu jadi perawan
Ketiak ia tuangkan secanting cahaya dari sorga
O, kekasih dari segala kekasih
Sekian lama kugiring rindu pada negri yang
tak pernah kutahu di mana ia bersarang,tempat para nabi tertanam.
Muhammad! Berfosillah namamu di dadaku.
.
Sunday, August 26, 2012
Jejak
Saturday, August 11, 2012
Kota 32+1
Thursday, May 10, 2012
Betapa sunyi pengembaraan menujumu
I.
Matilda, nama dari tanaman, atau batu, atau anggur,
dari yang dilahirkan bumi,
dan kekallah kata milik ia yang subuhnya beranjak,
ia yang musim panasnya meretaskan kemilau jeruk-jeruk sitrun.
Di dalam nama itu perahu-perahu berlayar
dikepung kobaran biru lautan,
dan huruf-hurufnya adalah air sungai
yang mengaliri hatiku yang terbakar.
O nama yang telanjang di bawah rambatan daun anggur
bagai pintu terowongan tak dikenal
menuju keharuman dunia!
O serbu aku dengan mulutmu yang membara
tanyai aku, jika mau, dengan sepasang matamu yang malam,
tapi di dalam namamu, biarkan aku berlayar dan tidur.
II.
Cintaku, betapa panjang jalan menuju sebuah ciuman,
betapa sunyi pengembaraan menujumu!
Bersama hujan kita ikuti kereta-kereta itu meluncur.
Tak ada fajar di Taltal, tak juga musim semi.
Tetapi kau dan aku, cintaku, kita bersama,
dari pakaian hingga akar kita bersama,
bersama di musim gugur, di dalam air, di pangkal paha,
hingga kita benar-benar bersama, hanya kau, hanya aku.
Memikirkan upaya sungai yang membawa
begitu banyak batu, delta perairan Boroa,
memikirkan kita yang terpisah oleh kereta dan bangsa
kau dan aku hanya harus saling mencintai,
dengan seluruh kebingungan, para lelaki dan perempuan,
bumi yang menanam pohon-pohon anyelir dan merekahkan mereka.
Pablo Neruda
Monday, April 23, 2012
Kembali
kebenaran itu tetap ada, meski
kerikil kehidupanku akan bertebar rata ke muka bumi, sekalilagi
aku akan hadir di hadapanmu, demi suara
yang lahir kembali tanpa batas ruang dan waktu.
jika ada seberkas keindahan yang belum terungkap, maka
akan kuberi engkau pertanda bahwa akulah dia,
Friday, March 30, 2012
Wanita Dalam Lukisan
Hari ke 2 di Masjid Jami' alun-alun bangkalan. Kali ini aku sendiri, tenggelam dalam kebisuan panjang, sembari mengenang masa kanak-kanakku. Kala itu ada pria kecil, bolak-balik ke masjid ini, pamit sebentar dari pesantrennya untuk pergi melawan penyakit tipus yang lama bersarang di tubuhnya. Lain kali, kalau mau berobat, ajaklah orang tuamu, kata dokter lucas, usai menyodorkan selembar kertas resep obat. Ah, dasar dia tidak tahu kalau orang tuaku berada di kota jauh sana, gumamnya. Pria kecil itu tak pernah menangis atau mengeluh, meski sering ia ingin sejenak berlari dari penyakitnya. Namun kali ini tiba-tiba ada yang mengambang di sudut matanya, keremangan rahasia tuhan ia idap sejak mulai usianya belia. Satu waktu ia menulis surat buat ibunya,''Ibu, mintakan aku pada Tuhan, agar aku mati lebih cepat'', namun, Ibunya melarangnya, dengan alasan, siapa nanti yang akan melindungi wanita dalam lukisanmu? Hidup ini bagai berlarung dengan sebuah gondola . suka tidak suka, mujur tidak mujur, kuat tidak kuat, kita harus terus mengayuhnya.
Ia tersenyum. Ternyata Ibunya masih ingat tentang lukisan yang ia tunjukkan pada suatu pagi.
Hari jum'at adalah hari surga, ketika fajar menyingsing, ia laksana bayi lelap dalam dekapan ibunya, karena semua aktivitas pesantren tidak ada pada hari itu. Ketika teman-teman yang lain pergi bermain bola, pria kecil itu memilih berteduh di bawah pohon mangga dekat pesantrennya. Seperti biasa, ia keluarkan lukisan kecil dari balik bajunya lalu memandangnya penuh hayat. Dia yang kelak menemaniku di surga, ujarnya lirih. Wanita ayu dalam lukisan itu membalasnya dengan senyum.
Pria kecil itu kemudian melepas pandangannya ke arah lain, menghinggapkan pandangannya pada sebuah tulisan yang pernah ia tulis dengan duri carang di pohon kaktus yang tumbuh bagai taman surga di sekitarnya,
Aku ingin jadi tuhan, agar aku bisa menciptakan banyak hamba. Ah, tidak! Sebab aku tak pintar bikin wahyu.
Aku ingin jadi nabi, agar aku banyak umat. Ah, tidak! Sebab aku tak pernah menerima wahyu
Tuhan, kelak aku akan hadir menjadi jawab pada setiap pertanyaan, dan, ada pada setiap ketiadaan.
Pria kecil itu selalu menghabiskan hari jum'at di sini, sembari menyaksikan wajah-wajah yang tidak ia kenal pergi, lalu datang wajah yg lain.
Apakah hari ini wajah-wajah itu kembali ada, atau selamanya tak pernah ada?
Aku rindu masa kanak-kanakku. Aku rindu lukisanku.
2012
Sunday, March 4, 2012
Ole Oolang II
ole olang paraonah alajhereh
gelombang mulai pulas
laut segera surut, jauh membawa kelahiran
pada rumah tua yang kutandai
sebentar lagi kapalkapal akan berlarung
nahkoda dengan wajah asing membuat laut kami murung
kuseka gelombang yang membawa
prahuku ke arah utara
duh, riangnya menyaksikan rumah berderet dengan atap tua
ibu ibu mengemas cemas di beranda masingmasing
anakanak berlari dengan wajah ceria
bagai kumbang di musim bunga
haruskah kukabarkan pada mereka?
suami dan ayahnya pergi dengan kematiannya.
prahuprahu mereka pecah oleh tambang minyak
yang dibangun orang eropa
planangplanang lama diam dengan kedunguannya.
di surat kabar tersiar, 90% lakilaki setempat berminat
menjadi satpam, setelah survei amatir menanyainya.
prahuku terus melaju kemana angin membawa
membawa kabar dan ironi yang terpendam.
2012
Friday, February 24, 2012
AKU INGIN NUANSA UNGU DI HARI PERNIKAHAN
AKU INGIN NUANSA UNGU DI HARI PERNIKAHAN
Haruskah aku berhenti menginginkanmu, kekasihku.
bahkan Frissa, teman dekatnya, tidak tahu di mana ia berada. namun sedikit pun aku tak pernah berhenti untuk terus mencari keberadaannya. sekitar dua tahun lalu dia rsign dari sini, stelah itu dia tidk pernah memberi kabar keberadaannya atau pun kabarnya, kata Afrilia, teman sekantornya.
Pelan-pel...an aku bangkit dari tempat tidurku dan melangkah menuju jendela hotel wiyugra persada tempatku menginap. Meski suasana kota jakarta mulai gelap namun masih bisa kulihat dari lantai tiga hotel; jejeran gedung dan petak-petak banguna yg belum jadi. Jauh di sana terhampar luas lampu-lampu kota bagai kunang-kunang bertebaran di sawah ketika musim panen. Mungkinkah kau salahsatu penghuni bangunan berlampu itu, Starla? Rumah bernomor 82 tempat mimpi pertamaku datang dan kau menyambutku dengan leleh air mata kebahagiaan, ternyata sudah dihuni orang lain.
''aku ingin nuansa ungu di acara pernikahan kita nanti, lalu diselingi lagu-lagu romantis dan puisi-puisi,'' pintamu.
aku mengangguk seraya berucap :''setelah nanti aku sukses, aku akan datang kepadamu, dan kita bahagia sampai anak dan cucu kita tua.''
Kini aku punya semuanya. Aku pemilik empat restauran di surabaya, dan saat ini sedang merintis usaha lain termasuk dua sorum mobil di Bandung.
''ini demi kamu ,Starla.''
aku lirik jam dinding menunjukkan pukul =04:55, sebentar, teman, aku shalat subuh dulu, nanti aku ceritakan semuanya kepadamu.
Saturday, February 18, 2012
Pantai Mimpi II
apalagi yang hendak kularung malam ini
Pagi segera menjemputku
inikah pantai mimpi yang pernah kita namai?
Kapal-kapal berdiri gagah dengan Nahkoda
Berwajah asing. Di tepi pantai berderet
Para nelayan dari banyak usia
Jala-jala direntangkan. Merah mega
telah tenggelam sore tadi. Para nelayan
memerahkan mimpinya pada petromak dan perahu kecil.
Sejenak aku diam, mencari tempat di mana kusandarkan sekoci kecilku? tempat ini masih tertanam rapih dalam ingatanku. Tapi tempat ini sudah banyak berubah. dermaga mimpi ini dulu banyak terbuat dari bambu dan kayu, itupun hanya untuk menambatkan perahu-perahu kecil. bukan KM Pelni, KM Lauser, atau Seaborn Legen. Kapal pesiar asal Amerika Serikat ini.
''Hahhh... Aku benci manusia, mereka sangat brutal tapi sebenarnya lemah'', ingat betul kata-kata jin iprit seblum berhasil taklukkan di negri matahari.
Sesaat kularikan pandanganku ke arah utara di mana teronggok batu besar dan derap ombak yang menerpanya. Hanya inikah yang tersisa, setelah di sekeliling bercokol bangunan pencakar langit yang tak pernah kutahu itu milik siapa? Hmmm... di atas batu itulah dulu kami banyak menghabiskan waktu. Menerbangkan lagu-lagu dengan suara yang kami anggap merdu. Riak-riak ombak mengiringi dengan merdu. Sambil bersandar di dadaku ia menggelungkan lengannya di tubuhku. Starla ! Kaulah mimpi indahku... Angin laut makin dingin; tajam menusuk tulangku. Cendawan putih masih erat kugenggam. Darinya ada pancaran terang, mungkin efek dari sinar rembulan yang menerpanya. Siapakah anak kecil yang memberikan cendawan putih ini tadi? Ia pergi sebelum sempat kutanya siapa namanya.
Bersambung...
Friday, February 17, 2012
Pantai Mimpi
''matahariku'' adalah lagu yang sering ia nyanyikan di beberapa tempat saat kami bertemu dan, di stasiun tempat kami menunggu; menunggu mimpi_mimpi yang tertunda, atau sebuah dermaga yang belum usai kubuat. ''pergilah arungi samudra dengan skoci kecil ini, kembalilah jika kelak kau berhasil menaklukkan negri matahari''. pintanya berulangkali.
susah payah aku menaklukkan negri matahari. ternyata cinta bisa membuat manusia jadi gila. manusia bisa baik karena cinta. Juga sebaliknya, ia bisa berubah jahat sejahtnya karena mahluk yg namanya cinta. Duh ironi.
Aku babat negri matahari dengan peluh dan darahku. Tak kuhiraukan jin dan setan melahapku sekali pun, lagi-lagi karena cinta.
Malam ini malam purnama. bulan menyorongkan cahayanya seolah menembus laut pantai mimpi dan isinya. Yah, kami memang menamai pantai itu pantai mimpi.
di sudut dermaga, anak kecil menendangnendangkan kaki mungilnya yang terbenam satengah betisnya hingga membentuk sebuah bunyi-bunyian. Rupanya anak kecil itu menikmatinya bak musik klasik dijaman ayahku.
sekociku perlahan menghapiri dan berlabuh tepat di depannya. Oh, bocah ini begitu cantik. matanya coklat memancarkan kilau keindahan dari balik rekahnya. Ia tetep asik bermain air, seolah tak sedikit pun perduli dengan keberadaan sekeliling tak terkecuali dengan kedatanganku. Anak yang aneh! Kenapa malam-malam ia berada di tempat ini? Aduhai..., perempuan kecil ini mengingatkan aku pada seseorang. Ah siapa anak yang punya wajah indah bagai dewi langit ini?
Bersambung...
Tanpa Judul
datanglah wahai sunyi. bunuhlah malam ini
dengan nyanyian parau yang pernah kau tancapkan pada dada para pemujamu. Diam sejenak di sini,
temani aku menenggak jarum infus yang berebut menancapkan dirinya di tubuhku.
Saat ini, yah saat inilah kau akan melihatku terbaring beku menatap botol inpus dan beberapa orang berderet membusurkan matamata mereka ke arahku.
''aku ini kenapa?''
''istirahatla...h'', jawab lelaki berbaju serba putih.
kugerakkan bibirku yang masih rekat, melihat perempuan cantik berkrudung ungu melempar senyum dari arah pintu.
''kemarilah,sayang. Kenapa kau lambat datang? kenapa kau diam... Ku mohon jangan pergi lagi... Jangan pergi... Jangannn!!!''
''tenang, nak... istighfar...'', suara ibu terdengar sangat pelan. Ia menmpelkan telapak tangannya di kepalaku.
Sunyi, datanglah. Rebah di sini temani aku menerbangkan sayapsayap kepedihan.
RS Bandung. 12 Februari 12

